Annyeong chingudeul... Mian, aku baru nge-upload yg part ke 2 :} gk perlu lama-lama lagi cekidot aja ya... :}
Happy reading pren... :)
-CCC-
"Apa? Abeoji*, maaf, tapi saya sudah pernah bilang bahwa saya tidak setuju apabila Abeoji mengadopsi Ji Yeon-sung sebagai adik saya."
Choi Seung-hyuk sudah muak dengan kelakuan anak sulungnya ini. Memang, tutur katanya sopan, tapi sifatnya yang tidak suka dengan orang baru, tidak ekspresif, dingin, dan cuek nyaris dengan segala hal, membuatnya benar-benar terkesan antisosial.
"Choi Sang-ji ! Sudah cukup ! apa yang membuatmu sangat membenci Ji Yeon-sung ? Dia gadis baik-baik dan mempunyai tata krama yang sopan ! Dia juga putri sahabat karib Abeoji ! Jadi, Berhentilah bersikap dingin dan tertutup ! Mulailah bersikap ramah dan terbuka !"
"Maaf, Abeoji, tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa saya membenci Ji Yeon-sung." Choi Sang-ji berdiri, ia membungkuk seraya berkata,"Saya sudah selesai, terima kasih atas makanannya." Kemudian, ia berjalan tenang menuju kamarnya.
"Choi Sang-ji, Abeoji tidak mau tahu, intinya, besok kau harus menjemputnya di Stasiun !"
Sial.
"Ada apa dengan anak itu ? Jika dia seperti ini terus, kapan dia akan berubah." Choi Seung-hyuk hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak sulungnya ini benar-benar kaku.
"Appa, tenang saja, aku akan menghajarnya sebentar lagi." Kata seorang anak lelaki berumur tujuh tahun dengan tangan dikepalkan dan wajah sok marah yang imut.
"Jangan Sang-hoon, walaupun begitu dia itu tetap kakakmu." Ucap Nam Soo-ah lembut, seraya mengelus rambut hitam legam milik putra bungsunya itu. Choi Sang-hoon. Sangat berbeda dengan kakaknya yang dingin, ia sangat ramah dan suka bercanda.
"Huh.., tapi Eomma, Hyung** itu menyebalkan." Sang-hoon melipat tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya sebal. Membuat kedua orang tuanya tertawa gemas.
*Abeoji : Ayah
**Hyung: panggilan kpd laki-laki yang lebih tua untuk laki-laki
*After This*
"Jangan Eonni*, jangan pergi. Apakah Eonni tidak ingat janji Eun-hwa oppa, kalau dia akan kesini minggu ini?"
Yeon-sung menghela napas. Ia kembali teringat rengekan Eun Myung-cha. Gadis kecil berwajah imut di panti asuhan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Ia menulis di kaca taksi, menulis nama seseorang yang membuatnya tersenyum untuk pertama kalinya setelah insiden yang menewaskan seluruh keluarganya.
Kim Eun-hwa
Nama itu. Entah untuk yang ke berapa kalinya ia menghela napas. Kim Eun-hwa sosok yang sangat Yeon-sung rindukan. Setiap kali Yeon-sung mengingatnya, ia akan teringat sosok yang menurutnya nyaris sempurna. Sikapnya yang sangat ramah, penyayang, ceria, agak sedikit jahil, perawakannya yang tinggi di tambah paras yang rupawan, membuat Yeon-sung yakin pasti banyak wanita yang mengaguminya. Yap, bisa dikatakan, Yeon-sung menyayanginya.
Tetapi, apakah mungkin Yeon-sung menyukainya ? Bahkan mencintainya, mungkin ? Yeon-sung tidak tahu. Ia tidak tahu perasaan sayangnya ini sebagai perasaan cinta atau hanya sayang karena menganggap Kim Eun-hwa sebagai orang yang sangat berpengaruh bagi hidupnya.
Yeon-sung menggeleng keras, wajahnya merona. Tidak kok, aku tidak menyukainya, huh. Ia menutup wajahnya yang merona. Ya, aku tidak menyukainya, aku hanya menyayanginya. Yeon-sung mengangguk mantap. Tapi, apa bedanya ?! Huh!. Yeon-sung kembali menggeleng keras. Sampai kegiatannya itu dihentikan oleh sopir taksi yang ia naiki.
"Ee..., maaf mengganggu, agassi*, tapi kita sudah sampai di Stasiun."
"Eh ? I-iya, Ahjussi***..."
*Eonni: panggilan kpd wanita yang lebih tua untuk wanita
**Agassi: nona
***Ahjussi: paman/pak
*After This*
Waktu tiga jam entah mengapa terasa sangat lambat. Tapi, akhinya Yeon-sung tiba di Seoul. Ibukota Korea Selatan itu dilanda hujan yang tidak terlalu lebat ketika Yeon-sung tiba disana.
Yeon-sung merapatkan mantel yang ia kenakan. Ia berjalan keluar stasiun sambil membawa koper dan biolanya. Ia tidak berniat menunggu hujan reda di dalam stasiun. Ia ingin menunggu di luar sambil menikmati hujan.
Drrt
Handphone Yeon-sung berdering. Ada pesan masuk. Dari nyonya Nam.
Yeon-sung ah, apa kau sudah sampai di Seoul ?
Jika sudah, segera hubungi aku ya.
Aku akan menyuruh putraku untuk menjemputmu.
Namanya Choi Sang-ji.
Kuharap kau mengingatnya.
Choi Sang-ji ? Nama itu terasa tidak asing bagi Yeon-sung. Tapi,
"Uh!"
Bruk!
Hanphonennya terjatuh. Ini terjadi lagi. Kepala Yeon-sung terasa sangat sakit, dan lagi dadanya terasa sangat sesak. Tangan Yeon-sung memegang kepalanya, ia yang tadinya berusaha untuk tetap berdiri akhirnya terduduk di bangku di sebelahnya. Tangan yang satunya meraba-raba tas, mencoba mencari inhaler miliknya.
"Ya, Tuhan, kenapa lebih sakit dari biasanya? Dimana inhalerku? uh..."
Napas Yeon-sung tersengal-sengal seperti habis berlari jauh. Ia tersenyum kecil. Inhaler miliknya ia temukan bersama obat-obatan dari dokter Jo Rin-ha lainnya. Segera, ia semprotkan inhaler kemulutnya, dan meminum salah satu pil obat ditangannya.
Perlahan rasa sakit di kepalanya sedikit menghilang. Dan rasa sesak di dadanya agak mendingan. Yeon-sung mengambil handphone miliknya yang ada di atas lantai. Tapi, ketika tangannya menyentuh handphone itu, ada bayangan seorang pria menutupinya.
"Mengapa menunggu di luar? Bagaimana jika asmamu kambuh?"
Yeon-sung terkejut. Siapa dia ? Yeon-sung tak mengenalnya. Pria itu menatapnya intens. Wajahnya datar, dan, angkuh. Tapi, tampan. Sepertinya ia sebaya dengan Yeon-sung. Itu terlihat dari seragam SMA yang ia kenakan. Baju itu agak basah terkena hujan. Mata cokelatnya menatap Yeon-sung dengan tatapan tak jelas. Yeon-sung merona. Hei, siapa yang tidak malu jika ditatap intens dengan seorang pria tampan?
"Ma-maaf, tapi, sepertinya Anda salah orang" ucap Yeon-sung. Pria itu menghela napas panjang. Kecewa,mungkin. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku Choi Sang-ji."
Choi Sang-ji? Nyonya Nam?
"Eh? Anda Choi Sang-ji? Choi Sang-ji putra Nyonya Nam?"
"Hn."
"Ah... Se-senang bertemu dengan Anda, Saya Ji Yeon-Eh?!"
Tiba-tiba, pria itu membawa koper dan biola milik Yeon-sung. Ia meraih tangan Yeon-sung menggenggamnya erat, menatap Yeon-sung, dan berkata, "Kita harus lari, aku lupa tidak bawa payung." Kemudian, berlari begitu saja sambil tetap menggenggam tangan Yeon-sung. Yeon-sung terpaku.
"Tu-tuan, Apa yang..."
Kata-katanya terhenti, sejak kecelakaan yang merenggut keluarganya, mungkin ini pertama kalinya hujan menetesi kepalanya. Terasa aneh, namun nyaman. Ia menatap ke depan. Menatap tubuh tinggi dan tangan Choi Sang-ji yang sedang menggenggam tangannya sambil membawanya berlari menembus tirai hujan. Perasaan ini tidak aneh. Hangatnya genggaman Choi Sang-ji juga terasa sangat familiar.
Ah, Yeon-sung mengingatnya. Kim Eun-hwa pernah menggenggam tangannya seperti saat ini. Sepertinya Yeon-sung benar merindukan pria itu.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar